Jumat, 13 Februari 2009

Bapak Paskibraka


Husein Mutahar

Bapak Paskibraka

Peristiwa itu terjadi beberapa hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI pertama. Presiden Soekarno memanggil ajudannya, Mayor (Laut) M. Husein Mutahar dan memberi tugas agar segera mempersiapkan upacara peringatan Detik- Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1946 di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.

Pak Mutahar memberikan ide agar pengibaran bendera pusaka sebaiknya dilakukan oleh para pemuda Indonesia. Beliau kemudian menunjuk lima pemuda yang terdiri dari tiga putri dan dua putra.

Sekembalinya ibu kota Republik Indonesia ke Jakarta pada tahun 1950, tradisi pengibaran bendera pusaka dilakukan di Istana Merdeka Jakarta. Regu- regu pengibar di bentuk dan diatur oleh Rumah Tangga Kepresidenan RI sampai tahun 1966. Para pengibar bendera itu tetap pemuda. Tapi belum mewakili apa yang ada dalam pemikiran Pak Mutahar. Semenjak ibu kota kembali ke Jakarta, Pak Mutahar tidak ikut menanganinya.

Tahun 1966, Pak Mutahar mendapat hadiah jabatan sebagai Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Saat itulah, ia kembali ingat dengan gagasannya tahun 1946.

Dari sana Pak Mutahar dan Ditjen Udaka melakukan latihan dengan nama ” Latihan Pandu Ibu Indonesia Ber- Pancasila” yang sempat diujikan pada tahun 1966 dan 1967. kurikulum uji coba ”Pasukan Penggerak Bendera Pusaka” dimasukkan dalam latihan itu pada tahun 1967 dengan peserta dari pramuka penegak yang berasal dari beberapa Gudep di Jakarta.

Kekhasan latihan itu adalah konsep pelatihan dengan menggunakan metode ”Keluarga Bahagia” dan diterapkan secara nyata dalam konsep ” Desa Bahagia”. Di desa itu, para peserta latihan di ajak berperan serta dalam menghayati kehidupan sehari- hari yang menggambarkan penghayatan dan pengamalan Pancasila.

Tahun 1967, Husein Mutahar kembali dipanggil Presiden Soeharto untuk diminta pendapat dan menangani masa- masa pengibaran bendera pusaka. Ajakan itu, bagi Pak Mutahar, ibarat mendapat ”durian runtuh” karena ia bisa melanjutkan gagasannya membentuk pasukan pengibar bendera pusaka yang terdiri dari para pemuda.

Pak Mutahar lalu kembali menyusun ulang dan mengembangkan formasi pengibaran bendera pusaka. Formasi tersebut terdiri dari tiga kelompok yakni kelompok 17(Pengiring/ Pemandu), kelompok 8(Pembawa/ Inti), dan kelompok 45(Pengawal). Formasi tersebut merupakan simbol dari hari kemerdekaan RI (17-6-45).

Pak Mutahar berpikir keras dan mencoba mensimulasikan keberadaan pemuda utusan daerah dalam gagasannya. Ketika itu, belum mungkin dihadapkan pemuda- pemuda yang langsung berasal dari daerah. Pak Mutahar kemudian mendatangkan pemuda- pemuda daerah yang ada di Jakarta. Sedangkan formasi 45 diisi oleh Pasuka Pengawal Presiden (sekarang Paspampres) setelah usaha mendatangkan para taruna AKABRI mengalami kendala.

Tanggal 17 Agustus 1968 kemudian pasukan khusus terwujud dengan melibatkan pemuda daerah yang sesungguhnya. Pemuda- pemudatersebut adalah utusan dari daerah langsung.

Selama kurun waktu dari tahun 1967 hingga tahun 1972, bendera pusaka dikibarkan oleh para pemuda utusan daerah dengan sebutan ” Pasukan Penggerak Bendera”. Tahun 1973, Idik Sulaeman yang menjabat Kepala Pengembangan dan Latihan P&K dan membantu Pak Husein Mutahar dalam pembinaan latihan melontarkan gagasan baru tentang nama pasukan pengibar bendera pusaka.

Pak Mutahar yang tak lain adalah mantan Pembina penegak Idik Sulaeman di Gerakan Pramuka Setuju. Maka, kemudian meluncurlah nama antik berbentuk akronim yang agak sukar diucapkan bagi orang yang pertama kali menyebutkan: PASKIBRAKA: singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.

Pak Idik Sulaeman memang yang memberi nama Paskibraka. Tapi,hakekatnya, Pak Mutahar-lah yang menggagas Paskibraka sehingga beliau pantas dijuluki ” Bapak Paskibraka”

sumber dari paskibrakan nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar